Buku Tamu

Ly'

Patterned Text Generator at TextSpace.net

Dilema Dunia Dezha




Ia beranjak pergi secepat mungkin. Meninggalkan aku dengan semilir angin laut yang menampar-nampar wajah basahku. Bibir pantai sudah sepi senyap, hanya deburan ombak yang ramai memekakkan telinga. Hatiku masih miris! Perih! Sakit. Ingin kuberteriak, menghentikan langkah-langkah lebarnya yang telah beranjak meninggalkan ku untukk selamanya. Yach..untuk selamanya. Meninggalkan hatiku untuk selamanya.
Air mataku kemballi tumpah walau sudah sejak tadi ku benamkan wajah diatas jas putih dokteranku tuk menghapusnya. Terngiang selalu kalimat-kalimat yang diucapkannya dengan wibawa. Dengan serius, lewat bibir yang sangat aku banggakan. Bibir miliknya, laki-laki pujaan hatiku sejak tiga tahun yang lalu. Sejak pertama kalinya kukenal dia sebagai dosenku. Roni..! namanya Roni, anak konglomerat sekaligus sebagi anak semata wayang yang benar-benar disayang orang tua. Itu dia..laki-laki pujaan ku yang telah pergi sekarang! Pergi..pergi untuk selamanya. Meninggalkan aku, hatiku dengan beban perasaanku yang menumpuk menggunung hanya tentangnya.
“Loe kenapa? Nangis..? Cengeng!!” suara itu begitu saja berhembus ditelinngaku. Kubiarkan saja. Aku tahu itu bukan suara Roni. Itu suara mantan sahabat terbaikku. Dava! Laki-laki yang kutinggalkan terkatung-katung dalam lingkaran kampus yang sama sekali tak berkait dengan kepribadiannya lantaran ia menyimpan rasa padaku. Aku memaklumi dia mempunyai rasa, malah senang sekali ketika tahu ia menyukai wanita bukan laki-laki seperti yang dituturkan dari mulut kemulut. Dia laki-laki aneh. Hanya bergaul dengan wanita, dan anti terhadap laki-laki. Kerap kutanyakan alasannya mengapa dan ia hanya menjawab dengan senyum sinis saja dan berkata “Lebih baik sama loe dari pada sama penjahat kayak mereka”.
“Ini..” dia duduk dihadapanku dengan tangan menyodorkan sehelai tisu. Sama sekali tak kugubris. Kudiamkan saja seperti biasanya.
“Oke..!” ia menarik tangannya, membuang begitu saja tisu yang ada ditangannya kebibiir pantai. Ia lemparkan juga pandangannya kekejauhan pantai yang menghitam ditelan waktu yang bergulung kembali.
“Loe kenapa gak nerima ajakannya dia?” Dugh! Refleks wajahku kudongakkan menatap wajah kekanak-kanakannya. Yach..dia masih kanak-kanak. Tak seprt wajah milik Roni!. Mengapa dia bisa tahu? Inilah dia permaslahannya, permasalahan yang membuat aku dan Roni menjadi berpisah. Saling tinggalkan dengan perasaan yang masih sama-sama mencinta. Aku masih ingin hidup dalam keluarga, buka n menghidupi keluargaku, keluarga baruku. Aku belum siap, belum sepenuhnya hatiku berkata ya untuk menjalankan semua yangdititipkan yang diatas. Aku masih ingin tertawa bebas tanpa aturan dari seseorang yang telah memilikiku sepenuhnya.
Dava menantang pandanganku dengan diamnya. Sekilas gambaran perasaannya kutemukan melintas dari cahaya mata abunya. Aku tahu itu, itu cinta bukan?. Dava tersenyum, menyadarkanku akan sesuatu yang telah terjadi.
“Loe kenapa tahu? Penjahat…!!” suaraku terdengar serak. Dava diam tanpa expresi jelas dan kemudian mengalihkan pandangannya lagi.
“Kenapa diem?!” nafasku turun naik, ada rasa perh disekeliling mataku terasa.
“Dasar tukang nguping..!” aku bangkit dari dudukku, berjalan secepat meungkin meninggalkannya yang masih mematung ditempatnya. Perasaanku bercampur aduk, perasaan sedih, kehilangan, benci menjadi satu. Sakit sekali. Langkahku terasa melayang, terbawa angn malam yang menantang djalan hadapan. Kenangan beberapa menit yang lalu kembal melintas jelas diingatan. Air mataku menetes kembali.
Dava masih tertinggal dibelakang. Mungkin sekarang ia sedang meratap nasib, duduk dipnggr pantai hnga pagi menjelang. Langkahku terus terayun membelah malam yang semakin pekat menuju pelataran parkir. Sepi senyap, hanya suara jangkrik yang bernyanyi seolah menertawai. Ach…! Tuhan… kembalikan dia padaku. Air mataku benar-benar tumpah sudah. Langkahku terhenti ditengah jalan, tak kuat sudah tubuhku berjalan menghampiri pintu mobil yang berada sektar lima langkah lagi. aku berdiri tertunduk, badanku lemas tak bertenaga. Pusing, kemudian terasa rasa perih menggerogoti lambungku.
Hitam..!


_DeEzha JeflY_

“Nich..Vitamin dari Dava!” Nola sahabat kentalku muncul dari pintu melemparkan bungkusan pelastik putih ketempat tidurku. Semalaman aku tak sadarkan diri. Dava yang membawaku kerumah sakit dan paginya dibawa pulang. Dia yang cerita tanpa kuperhatikan sebelum papa dan mama menjemputku kerumah sakit yang kutempati. Sampa rumah langsung kena omelan mama sama oma Ratih bunda mama. Karena alassan praktk kemarin hanya akal-akalan untuk bertemu dengan Roni saja. Yach Roni. Apa kabar dia sekarang. Kulirik handphone yang sejak tadi kupegang, berharp ada satu pesan masuk darinya. Tapi tidak ada.
“Dava tadi nanyain loe..” Nola berucap pelan setelah meneguk air putih yang dtaruhnya diatas lemari rias. Tatapanku beradu sementara langkahnya mendekati tempatku. Dia gadis cantik, anak belasteran Jepang-Indonesia. Gadis super baik sedunia yang pernah kutemui dan menjad sahabat terbaikku.
“Jangan loe bilang hubungan loe sama Roni sampai disini..” ucapannya mengagetkanku. Aku menunduk, menghndar tatapan burung elangnya. Dia sahabatku, aku yakin dia tahu ini.
“Loe saying Roni khan, Zha?” Nola menganggkat wajahku kasar. Aku mengangguk mengiyakan.
“Terus kenapa jadinya kayak gini?” ia mengguncang pundakku dengan gerakan kasar pula. Aku tetap diam tak berkata-kata sedkitpun. Sejenak ia diiam mengatur nafasnya yang tak beraturan. Pula tangannya melepaskan pundakku lunak.
“Dia saying loe, Zha. Saying..sekali..! tapi..” ia menatapku.
“Ah sudahlah…! Itu bukan urusan gue juga, sudah ya..gue pamit” tangannya dkbaskan lantas mulai beranjak merah jas puthnya yang ia letakkan diatas meja. Kuikut dia dengan pandangan mata yang berair. Apa dia bilang tadi? Bukan urusannya?. Setitik meleleh air mataku. Nola sudah hilang ditelan pintu yang menuttup. Ada perasaan aneh timbul didadaku, seperti rasa sesak yang tertahan lama sekali. Rasanya ingin saja aku berteriak. Air mataku sudah tumpah tanpa suara, sakit sekali.
Nola yang saat ini meninggalkanku disaat dia kubutuhkan sebagai pelibur laraku. Aku tahu ini memang salahku, kesalahan yang amat fatal sekali karena Nola memang ada kaitan keluarga dengan Roni. Achhhh…!!

_DeEzha JeflY_


Tekadku sudah bulat. Hari ini akan kudatangi rumah Roni, sudah biarkan saja orang mau bilang apa tentang aku. Aku tak peduli. Ini urusanku dan jalan hidupku.
Baru menuruni anak tangga menuju ruang keluarga, berbagai pasang mata menyambutku sinis. Ada Bang Rinu dengan ponakanku Dora yang digendong mamanya Mbak Key juga ada mama dan oma yang sedang membuka-buka majalah minggu lalu sembari menyeruput teh hangat pagi itu.
Kuteruskan langkahku setelah sejenak terhenti, tak ada yang menyapa hingga bingkai pintu baru ada suara Mbak Key menyapaku menyuruh sarapan terlebih dulu. Namun tak kugubris. Bukannya aku lancing, tapi aku malu dengan orang-orang yang ada disekelilingnya.
Mereka benar-benar menaruh marah terhadapku lantaran mereka tahu jika aku dan Roni telah pisah. Aku maklumi tentang itu karena aku tahu mereka menyayangi Roni layaknya mereka menyayangi anaknya sendiri.
Sampai didepan rumah, mobil sudah terparkir baru selesai dilap bersih mang Jaya pembantu rumah. Langsung saja kunaiki tanpa sedikit menoleh kearah mobil hitam metalik yang baru saja parkir disamping. Dava sepertinya. Mau apa lagi anak itu?. Mobil melayang dengan cepat menelusuri gang demi gang menuju rumah Roni yang tak begitu jauh. Hanya lima menit sampai. Kuinjak remnya perlahan kemudian mematikannya sembari melirik rumah besar yang seperti tak berpenghuni disamping kanan jalan sepi.
Baru akan melangkah keluar pintu mobil handphone mungilku bersuara unjuk rasa. Dengan perasaan geram handphone iitu kurogoh dan kupencet dengan setengah hati.
Klik
“Siapa?” suaraku kubuat lebih judes.
“Loe dimana? Gue di rumah loe”
“Gue lagi keluar, ada urusan!”
“Gue pengen ngomong!”
“Gak bis..”
“Dengerin gue dulu..” aku diam. Sepertinya dia marah. Oke kali ini dia boleh motong kalimatku, lupakan saja.
“Sorry!” suaranya lemah. Tak kurespon, kubiarkan dia melanjutkan kalimatnya dari seberang sana.
“Keluarga gue mau ngomong penting sama keluarga loe..”
“Apa! Maksud loe apa sich Va?” marahku jebol. Dia diam, hanya terdengar suara angin yang melintas memecah sepi diantara aku dan dia.
“Va, sekarang loe bilang ma gue! Maksud loe apa bawa-bawa keluarga loe kerumah gue? Tai loe…!!” dadaku benar-benar panas. Apa maunya anak ini? Bukannya itu berarti ada sesuatu yang serius?
“Gue mau ngelamar loe, Zha” pelan suaranya tertangkap indra pendengaranku. Aku bergetar hebat. Panas disekujur tubuhku terasa menguap. Bibirku sudah beku entah tak tahu akan berbicara apa lagi. Dia serius atau main-main?
“Zha? Zha? Loe denger gue khan?”
“Udah Va, gue gak mau tahu..! bawa keluarga loe pulang dari rumah gue.. gue gak ada waktu buat begituan..”
“Zha..Zha..!! Dezha…!!”
Tut..tut..

Klop..
Handphone ku masukan tas lagi. Ya tuhan, apa-apaan anak ini? Apa dia sudah gila?. Apa dia sudah melupakan jika ada nama Roni dibagian hidup gue?. Perasaanku gak menentu, mulai amburadur dengan masalah yang baru saja terjadi. Sudah, biarkan smeuanya berlalu.
Kulirik sekali lagi rumah yang sudah tak jauh lagi dari tempatku lantas aku bergegas berjalan menyusuri halaman nan luasnya yang tumbuhi beraneka ragam bunga. Aku tahu persis bagian-bagian dari taman ini. Aku tahu semua yang ada dalam rumah ini. Aku tahu.. sejenak langkahku terhenti. Kurasa ada seseorang yang sedang memperhatikanku dari rimbunnya bunga mawar dipojok barat sana. Bang Karim tepatnya. Penjaga rumah sekaligus pengurus taman berasal dari pelosok Semarang dari asal asli keluarganya Roni.
“Ini aku Bang, Dezha!” sedikit berteriak kuucapan namaku. Dia rabun jauh, jadi wajar kulontarkan kalimat itu. Kulihat dia menyunggingkan senyum sembari menyeka keringatnya dengan baju lusuh hitam keabu-abuan yang dipakainya. Sementara langkahnya menghampiriku, aku diam menunggu kedatangannya kehadapanku.
“Bang kira siapa tadi neng” ucapnya santun. Aku tersenyum, mataku memperhatikan kerutan-kerutan yang ada dikulit wajahnya yang putih bersih. baju lusuh hitam keabu-abuan yang dipakainya. Sementara langkahnya menghampiriku, aku diam menunggu kedatangannya kehadapanku.
“Bang kira siapa tadi neng” ucapnya santun. Aku tersenyum, mataku memperhatikan kerutan-kerutan yang ada dikulit wajahnya yang putih bersih. baju lusuh hitam keabu-abuan yang dipakainya. Sementara langkahnya menghampiriku, aku diam menunggu kedatangannya kehadapanku.
“Bang kira siapa tadi neng” ucapnya santun. Aku tersenyum, mataku memperhatikan kerutan-kerutan yang ada dikulit wajahnya yang putih bersih.
“Cari mas Roni neng?”
“Iya, dia ada?” aku balik bertanya. Dia berfikir sejenak, lantas mengangguk.
“Ada..ada, baru saja pulang” ucapnya berbinar-binar. Kembali kusunggingkan senyumku dengan tulus.
“Makasih Bang, kalo begitu saya pamit dulu”
“Oh sampun” dia menundukkan kepalanya tambah santun. Aku bergegas menuju pintu yang sekitar lima langkah lagi. pintu rumah bertingkat dengan warna cat kuning telur. Ada bel ditembok pintunya yang terpasang dengan jelas. Sekali kupencet, sudah terdengar suara orang akan membukanya. Dadaku berdebar-debar. Ada rasa malu yang seharusnya tak akan pernah aku rasakan, dia kekasihku. Kenapa aku malu..?
Tempat berdiriku serasa bergoyang, sekelebat bayangan-bayangan tak enak muncul dibenakku menggoyahkan tekatku. Namun, cepatku kumpulkan dengan kesadaranku. Aku pasti bisa. Pasti!
Cklek..
Pintu terbuka, sosoknya keluar menyongsong menggetarkan hatiku. Aku menunduk saat matanya memandangku dengan kerutan didahi. Apa artinya?
“Ada apa?” suaranya parau. Aku mendongak, mencoba memperlihatkan senyum semanis mungkin. Namun kurasa senyum itu senyum hambar.
“Apa sebaiknya kita ngomong didalam?” sopan sekali kulantunkan kalimat itu, mencoba memperbaiki image ku dihadapannya. Mimiknya tak berubah, tetap seperti itu dengan pancaran wajah tak sukannya.
“Sama saja!” kalimatnya ketus. Kuttelan air ludahku perih. Semarah inikah dia padaku..? tak beraniku tatap matanya. Beberapa saat diam menyelimuti dengan tegang, aku berdebar setengah mati. Air mataku sudah berlinang.
“Ada apa?” pertanyaannya diulang. Aku mencoba tegar, mencoba memandang wajahnya dengan sedikit bergetar.
“Gue Cuma mau ngomongin masalah hubungan kita” dia diam. Aku tahu hatinya goyah, aku yakin itu.
“Apa loe gak bisa menimbangkannya sekali lagi?” kulanjutkan kalimatku.
“Sudah Zha, jangan bahas masalah ini lagi. tekad gue sudah bulat..” duar! Apa dia bilang? Sudah bulat. Segera kulontarkan kalimatku.
“Apa kamu sudah tak mencintaiku?” aku memelas. Dan dengan tegasnya dia menggeleng. Ada senyum sinis diujung bibirnya. Tuhan.. apa semua ini? Apa aku sudah terhapus dalam hati kecilnya?. Air mataku tumpah sudah, aku sudah tidak ada lagi dalam hidupnya. Secepat itukah?
“Keluargaku sudah memiliki calon penggantimu, tunanganku..” ia beranjak meninggalkanku secepat mungkin, sementara aku masih diam diambang pintu dengan tangis perih yang tertahan. Bang Karim memandangku penuh Tanya. Tersirat jelas dimatanya dia menginginkan cerita tentang semua ini. Kupandangi pintu rumah yang masih terbuka, dia tak muncul lagi. dengan berat hati kutinggalkan tempat asing itu. Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi entah kemana. Hidupku hampa sudah, aku melayang menyusuri lorong-lorong jalan hitam dihadapan. Mataku sudah menghitam, terterjang waktu yang menyakitkan. Apa yang akan terjadi kemudian hari tuhan? Aku mendesah pelan, menghentikan laju mobilku dijalan sepi yang tak berpenghuni. Sepi, jalan bertanah becek tak menentu arah. Aku masih diam dengan pandangan kedepan kosong. Perasaanku hampa, membelah dilemma yang baru saja terjadi.
Begitu seterusnya. Mengalir terus air mataku.
Dan ketika guyuran hujan menerpa mobilku baru kutahu gelap sudah menyelimuti jalan yang tak berlampu. Sudah pukul 12 teng. Segera kutancap gas, putar mobil kemudian melayang dijalan-jalan yang telah sepi pengendara.
Masih terbayangkan dengan jelas semua yang telah terjadi. Oh Tuhan, dimana Roniku yang dulu..?

Ciit…
Mobilku kurem mendadak. Ada mobil didepan gerbang yang menghadang jalan masuk mobilku. Aku geram menyumpah-nyumpah dengan kasar dalam mobil yang mulai dingin terkena siraman air hujan pukul 12.

“Tiiiit..!” sekali kubunyikan klakson. Tak ada merespon. Aku diam, menahan marah yang membuncah hingga ubun-ubun.
“Tiiiit..!” dua kali sudah. Tapi sama saja. Cukup sudah kesabaranku. Kubuka dengan keras pintu mobil, menerobos hujan yang semakin membesar. Panas hatiku, tak kutahu apa yang sebenarnya penyebabnya. Air hujan seketika mengguyur rubuhku, menggerogotiku dengan dingin yang membekukan.
“Hei…! Denger klakson gue bunyi gak?!” satu kali gebrakan mengenai kaca mobil depannya saat kulihat laki-laki berjas yang berdiri membelakangiku disamping mobilnya. Dia tetap diam tanpa expresi. Oh.. dia mau main-main denganku. Cepat aku berjalan kehadapannya. Kutarik lengannya menuju pintu mobilnya tanpa sedikitpun melihat wajahnya . dia dingin, sedingin es.
“Loe pindahin gak mo..” kalimatku tertahan. Dia Devan, marahku semakin menggunung. Kenapa harus sselalu orang ini? Kulepas tangannya dengan kasar. Kutatap wajahnya yang membiru kedinginan, matanya merah walau begitu ia balas tatapanku.
“Kenapa sih harus loe doing?!” aku menangis. Air mataku bercampur hujan. Dia diam,masih dengan tatapan dinginnya yang tak kumengerti.
“Loe gak kasian sama gue? Loe tahu kan gue gimana ma loe? Loe tahu gue sekarang lagi kenapa khan? Gue capek tau sama loe. Udahlah Va, gue udah bilang sama loe. Gue gak cinta sama loe.. gue masih saying Roni, Cinta Roni…” tangisku pecah. Memecah kesunyian suara hujan yang berebutan turun. Dia semakin diam, mematung ditempat.
“Pindahin mobil loe!” suaraku merendah. Dia masih tak bergerak,tapi mulutnya bergerak.
“Loe baik-baik aja khan?” lemah sekali ia berbicara seperti itu. Hamper tak terdengar olehku. Kutahan jengkelku sembari mengangguk membuang wajah. Setelah itu baru ia berjalan menaiki mobilnya, dan meleset secepat mungkin meninggalkanku sendiri ditemani hujan.


_DeEzha JeflY_

Keadaanku memburuk walau Nola sudah melapangkan hatinya dengan semua masalahku. Aku semakin sakit, terpuruk keadaan yang menyakitkan. Aku masuk rumah sakit beberapa hari dan hari ini diperbolehkan pulang. Keluarggaku sama sekali tak menyapa atau berbicara sedikit saja padaku.
“Kamu itu bego, Zha! Masa cowok sekece dia kamu lepasin.. yang bener aja” itu komentarnya mamma ketika melihatku terbaring lemah dikamar. Aku tak tahu apa yang ada dalam fikiran mereka masing-masing. Oma,kakakku,dan kakak iparku semuanya sama saja. Semuanya menyalahkanku! Terlebih lagi dengan lamaran Devan yang kutolak mentah-mentah satu minggu yang lalu. Tambah sudah murka mereka semua. Aku benar-benar tak mengerti alur fikiran mereka semua. Mereka memang mengaku bahwa ia menyayangi Roni layaknya anak sendiri, tapi ketika melihat Devan juga seperti itu.

“Woi..Ngelamuna aja! Yuk pulang..” Nola berdiri disamping tempat tidurku. Aku menurut, mulai menuruni kasur rumah sakit tanpa expresi.
“Mama loe gak bisa jemput, katanya ada yang lebih penting..” itu kalimat Nola selanjutnya. Aku masih diam, malas mengomentari masalah mama atau yang lainnnya.

Selama perjalanan menuju mobil dan pulang kerumah tak ada yang berbicara. Nola sibuk dengan handphonenya yang terus berdering. Sementara aku diam dipojok mobil dengan luka yang masih menganga, sulit untuk kulupakan semua itu. Bayangan waktu itu kembali berputar dihadapanku.

“Gue belum siap, Ron”
“Terus kita bagaimana? Ini sudah mendesak Zha” wajahnya serius.
“Loe bilang loe siap tahun ini, oke gue tunggu. Gak bisa bulan ini, oke gue tunggu… tapi kenapa ini balasannya buat gue? Loe gak percaya sama gue?”
“Bu..bukan begitu Ron..”
“Terus kenapa?”
“G..gue belum siap!”
“Selalu alasannya itu, kita sudah sama-sama dewasa Zha..loe juga udah jadi orang, apanya yang belum siap?”
“Yach..gue masih gak mau hidup berkeluarga..”
“Tapi ini mendesak Zha, loe mau kehilangan gue?”sejenak aku terdiam. Mengikuti langkahnya yang pelan-pelan menjauh meninggalkanku.

“Ach…!!”


_DeEzha JeflY_

Inilah cinta sesungguhnya yang tak bisa kuterima. Dava, selalu dia. Selallu dia yang hadir dalam setiap hari kesendirianku. Walau kucampakkan dan walau sama sekali tak kuhiraukan rasa hatinya. Ia tetapmengejarku, menangkapku dan tak menyadari ia mencengkramku dalam senyum jahil yang kuciptakan. Aku memang telah menjadi miliknya, tapi bagiku dia bukanlah bagian hidupku. Ia memang sekarang berstatus berpacaran denganku baru seminggu, hanya sebatas menjaga perasaan Nola yang sudah bersusah payah menceramahiku. Dia suadah berkeluarga, sudah punya anak satu. Wajar jika ia begitu memperhatikan kehidupanku.
Sementara Dava, aku tak tahu apa yang membbuatnya begitu bodoh disaat bersamaku. Selalu menurut walau itu membuatnya sakit atau malu. Aku kasian, tapi lebih besar kemarahanku. Entah mengapa semua masalah ini kurasa ia penyebabnya. Kurasa ia adalah pemain sandiwara dibalik semua ini. Keluarganya mengenalku, dan sementara aku tak satupun kuingat siapa nama bagian keluarganya.

Dan hari ini adalah untuk yang kedua kalinya aku akan diajaknya menjumpai keluarga-keluarganya. Sudah dari lima menit yang lalu aku menunggunya, dia belum saja dating. Sudah kuhubungi handphonenya, tapi dia bilang masih dalam perjalanan. Aku mafhum, tapi tidak selama ini bukan?
Mama dan Oma sudah beberapa kali menanyaiku kenapa Dava telat menjemput. Aku menggeleng menahan jengkel. Keluargaku sudah baik seperti sediakalanya. Perhatiannya ke Dava tak ada edanya dengan perhatiannya terhadap Roni.

Drt..drt…

Handphone yang masih kupegang bergetar hebat. Sepertinya ada sms yang masuk. Cepat kulirik layer handphone yang menyala,

1 message received Dava..

Beb,,,
Udah nyampe depan rumah…

Tanpa menengok atau berpamitan kepada oma yang ada diruang tv langkahku sudah terayun menuju halaman rumah yang sudah diparkiri mobil Dava. Ada Dava disana, berdiri dengan baju jas cream yang lengannya digulung keatas. Ganteng!. Tapi kurasa Roni tak ada duanya, walau didepanku ini mirip dengan laki-laki yang sering kulihat difilm-film korea. Kembali kuteruskan langkahku yang sempat terhenti sejenak, melihatku yang sudah menuruni tangga Dava langsung ambil kerja membukakanku pintu mobil.
Hanya akalnya saja, biar tak kumarah mungkin. Kulewati dia memasuki mobil tanpa sedikit menengok ataupun menyapa. Kubuat wajahku menjadi semarah mungkin. Responnya hanya menggeleng penuh penyesalan lantas setengah berlari dia memasuki mobil, duduk disampingku mengendarai mobilnya.
Beginilah, selalu sabar. Sabar yang membuatku sakit hati. Kenapa dia setegar itu? Kenapa dia begitu bodoh kuperdaya seperti itu? Mobil berjalan.

“Kita kemana?” tanyaku mengurangi rasa bersalahnya. Ia tersenyum, bangga sekali.
“Kita kerumah sakit, papa masuk rumah sakit tadi malam” ia menjawab lancar. Aku diam, pandanganku beredar dijalan-jalan yang penuh kendaraan. Polusi dimana-mana, suara klakson mobil, sumpah serapah menjadi satu. Ini baru jalan keluar gang rumahku.
“Loe telat kenapa?” kembali pertanyaanku memenuhi ruangan mobil. Ia menatapku, memberi sedikit rasa bersalah yang ia rasakan untuk memastikanku bahwa ia tak bersalah.
“Sorry, Zha. Tadi nganter mama kerumah sakit dulu baru ngejemput loe..”
“Handphone loe juga gak aktif!” kuserbu dia.
“Handphone gue tadi malam ketinggalan diruang pribadi papa, baru tadi pagi gue ambil itu pun batreinya udah habis. Gak sempat gue cas tadi pagi..”
“Kenapa gak pakai telpon rumah?!” dia diam. Tergagap bibirnya mencari alasan yang tepat.

Tit..tit…


“Woi..! jalan bung.. tau macet gak?!” sekilas ia melirik lampu merah yang telah berubah warna menjjadi hijau. Mobil-mobil sudah berjalan. Pias diwajanya terlihat jelas. Dava..Dava.

Lima belas menit. Nyampai juga dengan mobil yang tanpa bersuara dari kami berdua. Sepi, pertengkaran dimulai. Masuk kekamar papanya hanya pasang senyum bohongan doang. Bosan, makanya kubuat alasan tak enak badan juga dan akhirnya sang mama yang nyuruh Dava bawa aku pulang.
Bukan disana saja semuanya seperti itu, tapi hingga pulang dan kembali menaiki mobil untuk pulangpun hanya begitu. Sepi, membuat bosan untuk hari ini.


_DeEzha JeflY_

“Yang bener aja, La dia kayak gitu.. hah..” Nola tertawa renyah diseberang sana saat kuceritakan semua yang telah terjadi hari ini.
“Udah lah Zha loe jalanin aja gimana enaknya..’
“Ya elo sich enak, udah punya dia.. orang yang baiknya selangit..” tawanya terdengar lagi.

Tlut..tlut..

Batrei empty

“Sial..!!” handphone kecil yang tadinya menempel ditelinga kulempar keatas kasur. Pembicaraanku dengan Nola dalam sekejap tak ada lagi. Aku mendesah pelan dari tempat dudukku. Namun teringat dengan sesuatu yang seharusnya kutanyakan pada Nola,langsung saja kuraih handphone itu dan mulai memberinya ruh. Rela-rela saja kududuk dipojok kamar menunggui handphonenku yang masih dicarger sekalian menunggu siapa tahu Nola akan menelpon.
Beberapa menit menunggu tak ada. Aku menyerah, merelakan pulsaku dengan lapang dada. Baru memencet mencari numberphonenya Nola, keburu ada yang mencoba menghubungiku. Numberphone baru. Sedikit ragu kuangkat telpon yang telah ditunggu diseberang sana.
“Hallo..?”
“Hallo..Dezha?”
Deg!!
Aku tak salah dengar bukan. Ini..ini suaranya Roni, yach suaranya. Sejenak aku tak menjawabnya, bibirku terkunci. Apa yang bisa membuatnya menghubungiku lagi. bukannya dia sudah mempersiapkan untuk pernikahannya. Kucabut carger yang baru sebentar terpasang, lantas memperbaiki dudukku.
“Gue Roni” yach.. dia benar-benar Roni. Laki-laki yang selama ini aku rindukan. Akankah dia akan mengajakku kebali dalam rengkuhan hidup cinta dan matinya? Dia ingin aku menjadi milikknya? Oh.. alangkah indah semua itu jika memang benar-benar terjadi.
“Gue tahu mungkin ini memang gak seharusnya gue lakuin..” parau terdengar suaranya dari seberang sana. Aku masih diam, masih tak percaya dengan yang sekarang kualami.

Tlut..tlut..

Oh jangan mati. Aku berucap dalam hati melihat handphoneku yang masih menguatkan diri untuk hidup. Sekali lagi berbunyi pasti akan mati.
“Tak apa” kuucapkan dengan menahan rasa bahagiaku yang membuncah.
“Ada apa?” kulanjutkan dengan kalimatku.
“Gue Cuma pengen loe dateng keacara gue..” ia menghela nafas sejenak dan aku sendiri menemani hatiku yang bergelut tak menentu. Tak mungkin ia mengatakan bahwa besok aku harus dating kepernikahannya, karena menurut penjelasan yang aku dengar dari Nola pernikahan Roni masih sebulan lagi,menunggu sang wanitanya wisuda.
“Acara apa?”
“Besok tanggal 24 maret, hari senin besok. Akan diadakan acara ulang tahun gue, sekali..”

Tlut..tlut..

Handphone gue mati. Ada senyum yang tercipta dibibirku, entah aku tak tahu apa yang menyebabku begini. Aku diundang keulang tahunnya? Ini titik terang Gun, dia ingin kamu kembali lagi. dia ingin kamu dateng lagi dalam hidupnya dia. Aku berteriak dalam kamar besar yang pengap suara. Entah aku bermimpi atau tidak, yang jelas hari ini dia menyapaku. Laki-laki itu, mantanku, dosenku. Hah.. happy.

_DeEzha JeflY_

Dava dan Nola tak kuberitahukan tentang berita mengejutkan ini. Karena kuyakin mereka berdua akan kecewa. Mulai saat ini waktu hanya untuk persiapan ulang tahun Roni. Mulai dari mempersiapkan gaun dan hadiahnya. Penampilanku harus oke, harus lebih baik dari semua yang hadir dipesta itu. Dua hari lagi. hari ini jadwalnya mengambil gaun yang sudah kupesan.
Sampai disana langsung disambut mbak Dewi, langganan butik tempat memesan gaun. Dengan berdeak kagum kukenakan gaun yang ada ditanganku. Hijau muda,indah sekali. Gaun pesta berlengan benang panjang hingga mata kaki. Manik-manik bintang kecil-besar melingkari bagian dada kebelakang. Dan dipiggulnya dipasangkan sebentuk ikat pinggang berbentuk pita dan dibawahnya kain transparan yang lebih muda warnanya jatuh berombak-ombak hingga mata kaki. Sendalnya hak, biasanamun berukir daun-daun yang jika dilihat diterik cahaya akan memantulkan sinar. Ini gaun yang setahun lalu kurancang bersama Roni, untuk persiapan pertunangan kami.
Dengan perasaan bangga kupeluk bungkusan baju yang telah kuterima. Ini langkah awal yang baik. Setelah itu muter-muter lagi, mencari tempat yang bagus untuk membeli hadiah ulang tahunnya. Selagi dimobil Dava menelpon menanyakan tempatku, kukatakan aku dirumah sakit menemani mbak key menunggui Dora yang sedang sakit. Dia percaya.
Sampai ditoko tempat pembelian hadiah sepi, hanya aku yang muter-muter dengan leluasanya mencari benda yang bagus. Tak lama, hanya sebentar saja sudah kutemukan barang yang memikat hatiku. Benda itu terletak dipojok etalaset toko yang terbuka. Barang berbentuk sepasang kekasih berdansa, terbuat dari potongan-potongan batu bermacam warna dan dihaluskan. Indah dan unik.

“Itu barang infor dari India, batu-batunya sisa dari pembuatan tajmahal..” itu ucap laki-laki separuh baya penjaga toko. Ada senyum yang ia perlihatkan kemudian baru mengambil alih barang yang ada ditanganku.
“Hanya satu ini yang diciptakannya..tidak dijual belikan untuk sepasang kekasih yang tidak mencintai kekasihnya”
“Satu?”
“Ya..!”
Setelah itu ia pergi entah kemana, muter-muter memeriksa barang dagangannya. Apa maksudnya?


_DeEzha JeflY_
240911 senin..

“Sudah!” tukas seorang karyawan bencong yang meriasku. Aku bangkit keluar ruang khusus yang aku tempati dari sejam yang lalu. Gaunku sudah terpasang dengan indah. Baru keluar ruangan semua mata tertuju padaku. Aku kikuk dipandang belasan mata karyawan-karyawan yang sedang break.
“Cantiknyoo..”
“Bidadari ijo neng..”
“Suit-suit, gue balik jadi cowok aja neng..”

Aku terkekeh-kekeh, menghampiri cermin ukuran besar yang terpampang dicentral room. Semua mengikutiku, terkagum-kagum sepertinya.
Dan inilah. Aku terkagum sendiri, berdiri mematung dengan perasaan tak percaya. Wajahku cantik, rambutku dipintil-pintil gelombang berjatuhan. Ada bros berentuk bunga terpasang dibagian sebelah kanan kepalaku. Warnanya tak begitu cerah, hijau muda. Aku berbalik menatap satu persatu wanita jadi-jadian didepanku. Tepuk tangan membahana. Aku bahagia, terbayang dengan jelas bagaimana Roni menanggapi kedatanganku.
“Aku pergi!” langkahku terayun setengah berlari, meninggalkan salon yang rebut bersuara. Mobilku terparkir rapi, hanya aku sendiri. Sudah pukul enam lebih, acara sebentar lagi akan dimulai. Kukebut mobilku hingga serasa melayang. Hanya sepuluh menit, sampai. Tak lupa kulirik rumahku yang terlewati, ada sebersit baying mobil hitam memasuki gerbang. Dava?!

Sampai.

Dari segala arah ramai. Rumah besar yang aku kunjungii beberapa hari yang lalu, hingga membuatku shock itu terselubungi warna hijau muda, warna kesukaan Roni. Aku tersenyum kecil lantas meninggalkan mobil. Baru berjalan memasuki kerumunan orang-orang MC memulai acara. Tak luput aku dipandangi. Langkahku tertahan, terpandang beratus-ratus pasang mata yang satupun tak kutahu bernama. Mereka terkagum? Atau…

“Oke, tamu undangan semuanya silakan bersalaman kepada kedua mempelai..” aku terperanjat ditempat. Dan entah antara sadar atau tidak aku berjalan, mencari sosok Roni. Kekasihku yang aku nantikan. Orang yang menunggu kedatanganku. Semua diam, hanya ribut suara musik yang berdentum keras. Dan disana.. yach disana. Dia berdiri dengan jas hitam, berdiri beserta seluruh keluarganya. Dan disana..yach disana pula.. gadis itu berdiri, dibawah tulisan besar yang tak kupercaya. “-ULANG TAHUN & PERNIKAHAN- Roni Prasetyadi Artidi & Anggun Indah Cantika”. Itu dia, petaka..petaka.
Dia memandangku dengan mata elangnya. Aku disini diam,dipandangi dengan kerutan-kerutan dahi.

“PRANK!!!” kulempar dengan keras kado yang ada ditangan lantas berlari membelakangi gadis cantik itu. Namanya Anggun, juga gaun hijau yang dipakainya itu Gaun yang mirip dengan gaunku.
“Anggun..! Anggun..!!” itu suaranya. Laki-laki kekasih hatiku yang telah membuatku menjadi gila. Menjadi seperti ini, gadis pemimpi yang tak waras. Terus berlari menyusuri jalan sepi yang gelap. Jauh sudah dari rumah Roni. Terus berlari, buang segala rasa ini Tuhan. Ia sudah dimiliki bintang lain, bukan aku..bukan!! Ach..! Roniiii!!
Aku melayang jauh melambung kejalan yang sudah tak beri cahaya kehidupan. Langkahku terhenti, memandang lurus dengan kosong.
Berputar kembali dunia cintaku dengannya. Mana angan-angan yang telah ada dalam benakku, inikah arti dari hadiah yang kubelikan untuknya. “tidak untuk sepasang kekasih yang tak mencintai kekasihnya..”. dia sudah tak mencintaiku, Tuhan. Sudah tidak lagi..

“Hiks..hiks..!” tangisku pecah. Dada ini sesak, aku jatuh terduduk ditengah jalan yang sepi tak beraspal.
“Apa semua ini Tuhan?!!”teriakku membahana. Alam diam tak bersuara. Isakku semakin besar tak terbendungkan. Aku benar-bear tak habis fakir. Apa yang terjadi dengan kehidupanku hingga aku menjadi seperti ini. Aku harus pulang, tanggalkan gaun hijau kesukaannya. Sudah lupakan dia, lupakan dia Anggun. Aku berbalik dan disana Dava berdiri dengan air mata berlinang. Tepat dihadapanku, didepan mobil hitamnya yang tak terlihat karena malam. Dia diam bak patung, menatapku dengan pandangan yang sulit kkumengerti. Dia telah tau segalanya, dia telah tahu apa yang terjadi segalanya.
Kudekati dia dengan langkah tertatih, kepalaku pusing dan diperutku terasa sesuatu melilit. Kupegang kedua pundaknya dengan pandangan tajam memandang. Dia masih diam.
“Maaf Va..” Parau suaraku terdengar. Dia masih seperti biasa. Kepalaku semakin pening, sakit tak tertahankan terasa. Tapi, aku harus ucapkan ini.
“Gue..belum bisa mencintai loe…” hati ini plong. tapi kepala semakin sakit semua gelap, sakitnya tak terbendungi.

Gubrak..!!

Hitam..

_DeEzha JeflY_

1 message received

082xxxxxxxxx

Gue harep kedatenga loe, diacara ultah & pernikahan gue..
Loe sahabat terbaik gue..
Gue yakin itu Gun, kedatangan loe semangat gue untuk
Menjalani perjalanan kehidupan gue..


Ly' p0enya-karya

2 Response to "Dilema Dunia Dezha"

azier mengatakan...

hmmm manteep...
ade berbakat...
suatu hari aku ingin melihat karyamu menandingi karya2 pipit senja...
tetap semangaaat...

EllyAjah mengatakan...

amien,,,
impian itu akan ku gapai,,
insyaallah,,,

Posting Komentar

cOment yEa,,

Laman

Photo Gallery